Namanya
Egi. Kalau aku panggil ia dengan sebutan Gie, girangnya bukan main. Persis nama
seorang tokoh yang ia kagumi, Soe Hok Gie. Bahkan jika aku boleh jujur, Egi
memang tidak berbeda jauh dengan Soe Hok Gie yang sering aku baca di buku. Soe
Hok Gie adalah seorang pecinta alam, begitupun Egi. Jika libur kuliah, Egi
lebih sering menghabiskan waktunya dengan naik-turun gunung. Sepulangnya dari
gunung, ia tak pernah berhenti berceloteh, bahkan aku harus setia mendengarkan
cerita yang sama selama 1 minggu berturut-turut. Sempat iri karena memang aku
tak pernah diijinkan naik gunung lagi setelah pernah kondisi fisik drop sehabis
pulang naik gunung sewaktu SMA. Soal kekritisan, Egi pun tidak kalah. Dari
mulai kebijakan di fakultas, kampus, sampai pemerintahan ia kritisi. Latar
belakangku yang tidak tertarik tentang perpolitikan kadang tak mengerti apa
yang dibicarakannya. Aku memang payah. Pacar yang payah untuk seorang yang
brilian seperti Egi.
Tapi
aku pun tak sepayah yang kalian kira. Aku memang tak sebrilian Egi, tapi aku
pun punya kebrilianan yang lain. Sedikit narsis tak apalah. Aku lebih sering
terjun di kegiatan-kegiatan sosial, dari mulai mendirikan rumah belajar untuk
anak-anak jalanan, mengadakan senam ibu hamil di desa tetangga, penyuluhan
tentang seks bebas untuk para remaja, bahkan aku dan kawan-kawan mulai membina
sebuah desa terpencil agar mandiri secara ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Berbeda
kontras dengan Egi, sang pacar bukan ?!
Aku
sendiri tak mengerti mengapa bisa jatuh cinta pada sosok Egi. Secara logika,
seseorang pasti tertarik dengan orang yang banyak persamaan dengan dirinya,
dari mulai hobi atau lebih luasnya lagi tentang prinsip hidup. Cinta memang
seringkali bertolak belakang dengan logika. Dan itulah yang terjadi pada kami.
Terlepas
dari perbedaan itu, kami sering merasa yakin jika kami berjodoh. Bukan untuk
menerka atau bahkan sok tahu tentang takdir, hanya untuk bumbu-bumbu kemesraan
saja. Lebih tepatnya sebuah lelucon. Seperti ini salah satunya, kami
dipertemukan di salah satu fakultas yang menjadi unggulan di kampus ini,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dari nama tempat yang mempertemukan kami
saja sudah jelas (mungkin) kami berjodoh. Aku yang tertarik pada hal-hal yang
berbau sosial dan Egi yang tertarik pada hal-hal yang berbau politik. Cocok bukan
?! Si Sosial dan Si Politik yang dipertemukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik. Haahahhaa….
Atau
ada lagi 1 hal, entah kenapa aku punya cita-cita untuk menjadi seorang istri
presiden. Banyak teman yang berkata bahwa cita-citaku tanggung, “Kenapa gak
jadi presiden aja sekalian ?!” Begitu tanya temanku. Padahal sedikit bocoran,
ini jelas-jelas bukan cita-cita yang tanggung, ini justru cita-cita yang
skalanya lebih tinggi dari cita-cita menjadi seorang presiden. Itu pun jika
cita-cita memiliki skala. Kau tahu kenapa ?! Menjadi seorang presiden memang
terdengar hebat tapi tahukah kalian bahwa adanya laki-laki yang hebat itu
karena ada wanita yang hebat juga dibelakangnya?! Yang senantiasa menjadi penyemangat saat Sang
Lelaki dilanda krisis kepercayaan diri, yang siap sedia diajak berdiskusi, yang
selalu mencintai bahkan jika di lain pihak begitu banyak yang membenci, dan
yang selalu menghadirkan Sang Lelaki disetiap doanya. Wanita itu tak lain dan
tak bukan adalah ibu dan istrinya. Jadi lebih hebat mana menjadi Sang Presiden
atau Istri Presiden…?! Hahahhaa… Bukan cita-cita yang tanggung bukan…?! Bahkan
jika aku benar-benar menjadi istri seorang presiden, minatku dibidang sosial
akan lebih tersalurkan. Egi tertawa terbahak-bahak saat pertama kali aku menjelaskan
mengapa setiap kali ditanya soal cita-cita aku selalu menjawab ingin menjadi
seorang istri presiden. Tapi kemudian dia mulai mengerti bahwa pacarnya adalah
seorang yang gila sekaligus brilian. Ini bukan narsis, ini persis dengan apa
yang dikatakan Egi kepadaku disuatu senja, “Beruntung memiliki seorang pacar
yang gila sekaligus brilian.”
Ya,
kami memang berbeda namun kami masih tetap bisa satu sampai saat ini tak lain
karena pengertian, mencoba mengerti apa yang menjadi bagian hidup Egi,
begitupun Egi yang sepertinya mencoba keras untuk mengerti tentangku. Egi tak
pernah memaksaku untuk ikut aksi dan turun ke jalan. Begitupun aku, aku mencoba
memahami Egi yang memang punya sisi kritis yang abnormal, aksi diluar kota atau
sekedar berdiskusi dengan kawan lama di lain kota pun tak pernah sedikit pun
aku larang. Setidak setujunya aku dengan kegiatan-kegiatan Egi karena khawatir
dengan keselamatan dan kesehatannya, aku tak pernah berkata “Jangan..!!” Hanya
mampu berkata “Hati-hati…”
Ada
1 hal yang membuatku semangat dan begitu mengagumi pacarku ini, Egi pernah
berkata, “Secara kasat mata mungkin kita berbeda. Tapi intinya kita sebenarnya
sama. Bukankah kita sama-sama menginginkan Indonesia menjadi lebih baik ?! Itu
dia intinya ! Hanya arah perjuangannya saja yang berbeda, kamu melakukannya
dengan cara menyentuh ‘yang ada di bawah’, langsung terjun ke masyarakat.
Sedangkan aku melakukannya dengan cara menyentuh ‘yang ada di atas’,
menyadarkan dan mengingatkan pemerintah saat keluar dari koridor yang seharusnya
mereka jalani. Jadi lihatlah intinya, jangan lihat permukaannya saja. Kita sama
!!
Aku
semakin yakin perbedaan itu indah. Pelangi dengan keanekaragaman warnanya dapat
menjadi indah, sebuah lagu yang terdiri dari nada-nada yang berbeda pun dapat
menjadi alunan yang indah, lalu mengapa kami tak bisa menjadikan perbedaan ini
indah ?! Perbedaan itu indah selama yang menjalaninya dapat menjadikan
perbedaan itu indah. Seperti apa yang tengah kami usahakan kini. Jodohkan aku
dengan dia, Ya Rabb….
Dago
Pojok, 5 Februari 2011