Selasa, 25 Agustus 2015

JANJI JARI KELINGKING

"Jangan harap janji jari kelingkingnya di tepati, janji kecilnya saja dilupakan."


Siang ini terik. Panas yang tak ramah dapat membuat siapa saja yang kurang iman akan naik darah. Salah satunya aku. Beberapa hari terakhir perasaan ini tak karuan, membuat otak diluar kesadaran. Ini semua melumpuhkan logika, aku tak suka.

Semilir angin menyapu pipiku, mengikuti setiap lekukan hidungku, dan tercium bersama dengan oksigen yang tiap detik ku hirup.. Harum ini, harum yang telah lama aku kenal.. Parfum seorang lelaki.. Ini sudah kesekian kalinya. Aku percaya jika kita mencium harum parfum seseorang padahal ia tak ada disamping kita, maka itu bisa dipastikan kita tengah merindukannya. Tapi ini kelewat batas, terlalu sering, di setiap waktu, tak kenal tempat : sejenak sebelum tidur, 5 detik setelah bangun tidur, keluar pintu kamar, memasuki gerbang kampus, di kelas, di kantin, di taman, dimana-mana.

Seperti disini, di perpustakaan kampus, inilah tempat favorit beberapa hari ini karena hanya ditempat ini aku merasa sepi, sunyi, dan sendiri. Karena memang yang aku butuhkan saat ini hanya ketiga itu. Pendingin ruangan membantuku menyejukkan pikiran dan hati yang sebelumnya gersang karenamu. Hanya 1 yang tak pernah lelah mengikutiku, harum parfummu. Sebegitu besarkah kadar rinduku padamu, Lelakiku ?!

Hujan di malam hari, suatu yang ku suka, penuh kenangan tentangmu. Seperti malam ini, saat hujan gerimis kecil membasahi tanah.

"Rencana Tuhan itu sempurna. Apa yang telah ditakdirkan menjadi milikku, ia akan menjadi milikku."

Aku hibur hati yang lara sebabmu dengan untaian kata itu. Betapapun kau hempaskan aku dari tempat yang sebegitu tinggi, betapapun kau lukai aku dengan goresan mata pisau teruncing, betapapun kau pergi tanpa sempat menepati janji terlebih dahulu, betapapun kau lebih memilih dia dan bukan aku, betapapun kau pergi jauh ke dunia yang tak pernah terlintas sedikitpun dibenakku, tapi jika kau milikku, jika kau takdirku, aku hanya tinggal perlu menunggu. Tangan Tuhan yang akan membawamu kesini, ke tempat ini, tempat dimana aku selalu menantimu. Maka aku mencoba titipkan rasa cinta, rasa sayang, dan rasa ingin memilikimu kepada-Nya, Dzat Penggenggam Hati-Hati Manusia. Karena aku percaya, rencana Tuhan selalu sempurna.




**tulisan ini terinspirasi kedua sahabatku, tersakiti oleh janji yang pernah diucapkan oleh seorang lelaki, tapi tetap saja mencintai.."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar