Selasa, 25 Agustus 2015

SI SOSIAL DAN SI POLITIK (Tiga Besar Lomba Cerpen Hypnosoulmate)


Namanya Egi. Kalau aku panggil ia dengan sebutan Gie, girangnya bukan main. Persis nama seorang tokoh yang ia kagumi, Soe Hok Gie. Bahkan jika aku boleh jujur, Egi memang tidak berbeda jauh dengan Soe Hok Gie yang sering aku baca di buku. Soe Hok Gie adalah seorang pecinta alam, begitupun Egi. Jika libur kuliah, Egi lebih sering menghabiskan waktunya dengan naik-turun gunung. Sepulangnya dari gunung, ia tak pernah berhenti berceloteh, bahkan aku harus setia mendengarkan cerita yang sama selama 1 minggu berturut-turut. Sempat iri karena memang aku tak pernah diijinkan naik gunung lagi setelah pernah kondisi fisik drop sehabis pulang naik gunung sewaktu SMA. Soal kekritisan, Egi pun tidak kalah. Dari mulai kebijakan di fakultas, kampus, sampai pemerintahan ia kritisi. Latar belakangku yang tidak tertarik tentang perpolitikan kadang tak mengerti apa yang dibicarakannya. Aku memang payah. Pacar yang payah untuk seorang yang brilian seperti Egi.

Tapi aku pun tak sepayah yang kalian kira. Aku memang tak sebrilian Egi, tapi aku pun punya kebrilianan yang lain. Sedikit narsis tak apalah. Aku lebih sering terjun di kegiatan-kegiatan sosial, dari mulai mendirikan rumah belajar untuk anak-anak jalanan, mengadakan senam ibu hamil di desa tetangga, penyuluhan tentang seks bebas untuk para remaja, bahkan aku dan kawan-kawan mulai membina sebuah desa terpencil agar mandiri secara ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.


Berbeda kontras dengan Egi, sang pacar bukan ?!

Aku sendiri tak mengerti mengapa bisa jatuh cinta pada sosok Egi. Secara logika, seseorang pasti tertarik dengan orang yang banyak persamaan dengan dirinya, dari mulai hobi atau lebih luasnya lagi tentang prinsip hidup. Cinta memang seringkali bertolak belakang dengan logika. Dan itulah yang terjadi pada kami.

Terlepas dari perbedaan itu, kami sering merasa yakin jika kami berjodoh. Bukan untuk menerka atau bahkan sok tahu tentang takdir, hanya untuk bumbu-bumbu kemesraan saja. Lebih tepatnya sebuah lelucon. Seperti ini salah satunya, kami dipertemukan di salah satu fakultas yang menjadi unggulan di kampus ini, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dari nama tempat yang mempertemukan kami saja sudah jelas (mungkin) kami berjodoh. Aku yang tertarik pada hal-hal yang berbau sosial dan Egi yang tertarik pada hal-hal yang berbau politik. Cocok bukan ?! Si Sosial dan Si Politik yang dipertemukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Haahahhaa….

Atau ada lagi 1 hal, entah kenapa aku punya cita-cita untuk menjadi seorang istri presiden. Banyak teman yang berkata bahwa cita-citaku tanggung, “Kenapa gak jadi presiden aja sekalian ?!” Begitu tanya temanku. Padahal sedikit bocoran, ini jelas-jelas bukan cita-cita yang tanggung, ini justru cita-cita yang skalanya lebih tinggi dari cita-cita menjadi seorang presiden. Itu pun jika cita-cita memiliki skala. Kau tahu kenapa ?! Menjadi seorang presiden memang terdengar hebat tapi tahukah kalian bahwa adanya laki-laki yang hebat itu karena ada wanita yang hebat juga dibelakangnya?!  Yang senantiasa menjadi penyemangat saat Sang Lelaki dilanda krisis kepercayaan diri, yang siap sedia diajak berdiskusi, yang selalu mencintai bahkan jika di lain pihak begitu banyak yang membenci, dan yang selalu menghadirkan Sang Lelaki disetiap doanya. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah ibu dan istrinya. Jadi lebih hebat mana menjadi Sang Presiden atau Istri Presiden…?! Hahahhaa… Bukan cita-cita yang tanggung bukan…?! Bahkan jika aku benar-benar menjadi istri seorang presiden, minatku dibidang sosial akan lebih tersalurkan. Egi tertawa terbahak-bahak saat pertama kali aku menjelaskan mengapa setiap kali ditanya soal cita-cita aku selalu menjawab ingin menjadi seorang istri presiden. Tapi kemudian dia mulai mengerti bahwa pacarnya adalah seorang yang gila sekaligus brilian. Ini bukan narsis, ini persis dengan apa yang dikatakan Egi kepadaku disuatu senja, “Beruntung memiliki seorang pacar yang gila sekaligus brilian.”

Ya, kami memang berbeda namun kami masih tetap bisa satu sampai saat ini tak lain karena pengertian, mencoba mengerti apa yang menjadi bagian hidup Egi, begitupun Egi yang sepertinya mencoba keras untuk mengerti tentangku. Egi tak pernah memaksaku untuk ikut aksi dan turun ke jalan. Begitupun aku, aku mencoba memahami Egi yang memang punya sisi kritis yang abnormal, aksi diluar kota atau sekedar berdiskusi dengan kawan lama di lain kota pun tak pernah sedikit pun aku larang. Setidak setujunya aku dengan kegiatan-kegiatan Egi karena khawatir dengan keselamatan dan kesehatannya, aku tak pernah berkata “Jangan..!!” Hanya mampu berkata “Hati-hati…”

Ada 1 hal yang membuatku semangat dan begitu mengagumi pacarku ini, Egi pernah berkata, “Secara kasat mata mungkin kita berbeda. Tapi intinya kita sebenarnya sama. Bukankah kita sama-sama menginginkan Indonesia menjadi lebih baik ?! Itu dia intinya ! Hanya arah perjuangannya saja yang berbeda, kamu melakukannya dengan cara menyentuh ‘yang ada di bawah’, langsung terjun ke masyarakat. Sedangkan aku melakukannya dengan cara menyentuh ‘yang ada di atas’, menyadarkan dan mengingatkan pemerintah saat keluar dari koridor yang seharusnya mereka jalani. Jadi lihatlah intinya, jangan lihat permukaannya saja. Kita sama !! 

Aku semakin yakin perbedaan itu indah. Pelangi dengan keanekaragaman warnanya dapat menjadi indah, sebuah lagu yang terdiri dari nada-nada yang berbeda pun dapat menjadi alunan yang indah, lalu mengapa kami tak bisa menjadikan perbedaan ini indah ?! Perbedaan itu indah selama yang menjalaninya dapat menjadikan perbedaan itu indah. Seperti apa yang tengah kami usahakan kini. Jodohkan aku dengan dia, Ya Rabb….



Dago Pojok, 5 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar