Selasa, 25 Agustus 2015

JENDELA CINTA GEDUNG SEBERANG (50 Besar Sinopsis Cerita LA Light Indie Movie)


Kita hidup dibawah 1 langit yang sama di kota ini dan aku mungkin saja pernah menghirup udara yang membelai mesra rambutmu. Tapi tak pernah ada tegur sapa diantara kita. Aku mengenalmu dengan baik, wahai si pemilik jendela gedung seberang. Dan aku pun yakin kau mengenalku lewat tulisan-tulisan milikku yang selalu kau baca di surat kabar pagi langgananmu.

Tak sulit bagiku mengetahui surat kabar langganan yang tiap hari kau baca, tinggal bertanya kepada Pak Tua pengantar koran yang juga kebetulan mengantarkan koran ke rumahku. Alhasil aku mendapatkan jawaban, sebuah nama surat kabar ternama di kota kita. Sejak saat itu kuputuskan mengirimkan cerpen-cerpen milikku ke surat kabar itu. Sedikit beruntung memang, dengan mengandalkan reputasiku di dunia tulis-menulis hanya dengan satu-dua kali kirim, cerpen milikku sudah terpampang dengan manis di salah satu halaman sastra surat kabar itu.

Pagi ini aku yakin kau tengah membaca tulisanku di surat kabar langgananmu. Tulisan yang ku kirim ke surat kabar ini memang lebih banyak menulis tentangmu, tantang betapa aku mengagumi sosokmu, sosok penghuni gedung seberang. Andai kau lebih peka dengan karyaku, kau dapat memastikan bahwa yang ku tulis itu tak lain ialah dirimu. Ku ceritakan semua tentangmu, bentuk matamu, hidungmu, bibirmu, senyummu, tawamu, ramahmu, kebiasaanmu bermain dengan anak kecil, santunmu dengan mendermakan harta untuk pengemis tua yang datang, caramu memetik gitar, dan masih banyak lagi. Dan tahukah kau ada bagian di tulisan pagi ini yang sesungguhnya aku buat khusus untukmu. Bagian yang aku tulis dengan perasaan yang menderu...

"Aku suka hujan di malam hari. Ia terasa menenangkan disaat gelap dan menghangatkan dikala gulita. Aku suka fajar dini hari karena ia mengantarkan ku pada cahaya lembut mentari. Aku suka senja yang menyapa di ujung hari karena ia menjemputku dikala rembulan siap menyertai. Hujan, fajar, dan senja itu tak lain ialah kau."

Aku mengagumimu sampai mati…

So please... lihat sejenak jendela di samping kirimu, dan akan kau temukan aku berdiri di sisi jendela lainnya di gedung seberang... aku yang selalu menunggumu ditemani mesin tik tua, tak pernah berhenti bermimpi untuk bisa menuju tempatmu, tak perlu dengan ragaku cukup hanya hatiku yang menuju kesana...

Lantas aku mulai bertanya, adakah aku layaknya ikan tuna dalam kaleng yang biasa dijual di supermarket-supermarket ? Tubuh ikan itu ada di dalam kaleng, namun kepalanya tak ada disana. Tak jauh beda denganku setiap kali berada di ruang mesin tik ini, ragaku hadir namun kepalaku -pikiranku- tak ada disini, coba tebak dimanakah ia ?! Yaa... di gedung seberang...

Ijinkan sekali lagi aku berkata, Aku mengagumimu sampai mati…

***

Surat kabar yang lain menunggu tulisanku mengenai kondisi politik saat ini. Dan sulit bagiku berkonsentrasi di ruang mesin tik tua ini, karena pandanganku pasti akan tertuju pada jendela di gedung seberang. Aku mencoba mensiasatinya dengan memasang tirai pada jendela. Sudah hampir 2 hari tirai jendela ini menghalangi pandangku, dan ini memang menyiksa.. Tak hanya karena aku tak bisa melihat pemandangan sejuk bagian atas Dago, tapi kerinduanku pada gedung seberang membuat batinku sedikit terluka. Mungkin ini lebih baik, berkonsentrasi di ruang mesin tik tua ini agar aku bisa mengirimkan tulisan-tulisan selain tentangmu. Namun apa yang terjadi, yang aku hasilkan justru lebih banyak tulisan-tulisan tentang 'kamu'. Ini benar-benar gila.

Kau menyiksaku sampai mati, menyiksa hati dan pikiran yang memang selalu terbayangi oleh dirimu. Otakku nyaris beku jika mencoba menulis selain tentang dirimu, buntu. Tapi jika ku mulai dengan 1 kalimat tentangmu, kalimat-kalimat lain menyeruak dalam otakku, membuatku semakin mempercepat ketikan agar tak ada 1 kalimat pun yang luput. Karena bagi ku, 1 kalimat tentangmu bagai keberuntungan yang membuatku bahagia karenanya.

Seperti untaian kalimat yang satu ini, yang ku buat dengan senyum di bibir...

"Banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, hal-hal yang membuatku tersenyum, tertantang, dan tentu saja yang membuatku tertatih hari ini... Setiap suka ingin ku bagi denganmu dan setiap duka ingin ku hapus bersamamu... Saat yang aku rindu ialah saat kita bisa duduk santai di taman kota ditemani gugurnya daun di bulan Februari…"

***

Bukankah sifat dasar yang melekat pada seorang wanita itu ialah pemalu ?! Lantas apa aku menyesali memilih jalan ini ?! Menjadi pengagum rahasia, yang cukup merasa riang melihatmu dari jendela ini... Pernahkah terbersit rasa penyesalan itu ?! Tidak.. aku lebih menyesal jika aku tunjukkan secara terang-terangan, maka aku memilih untuk menumpahkan semua rasa yang ada dihati ini lewat karyaku, lewat tulisanku... Karena satu hal yang aku yakini, tulang rusukku itu tak akan tertukar… Biar Tuhan saja yang menjawab…



Rampung di Dago Pojok, 13 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar