Kita hidup dibawah 1 langit yang sama di kota ini dan aku mungkin saja pernah
menghirup udara yang membelai mesra rambutmu. Tapi tak pernah ada tegur sapa
diantara kita. Aku mengenalmu dengan baik, wahai si pemilik jendela gedung
seberang. Dan aku pun yakin kau mengenalku lewat tulisan-tulisan milikku yang
selalu kau baca di surat kabar pagi langgananmu.
Tak
sulit bagiku mengetahui surat kabar langganan yang tiap hari kau baca, tinggal
bertanya kepada Pak Tua pengantar koran yang juga kebetulan mengantarkan koran
ke rumahku. Alhasil aku mendapatkan jawaban, sebuah nama surat kabar ternama di
kota kita. Sejak saat itu kuputuskan mengirimkan cerpen-cerpen milikku ke surat
kabar itu. Sedikit beruntung memang, dengan mengandalkan reputasiku di dunia
tulis-menulis hanya dengan satu-dua kali kirim, cerpen milikku sudah terpampang
dengan manis di salah satu halaman sastra surat kabar itu.
Pagi
ini aku yakin kau tengah membaca tulisanku di surat kabar langgananmu. Tulisan
yang ku kirim ke surat kabar ini memang lebih banyak menulis tentangmu, tantang
betapa aku mengagumi sosokmu, sosok penghuni gedung seberang. Andai kau lebih
peka dengan karyaku, kau dapat memastikan bahwa yang ku tulis itu tak lain
ialah dirimu. Ku ceritakan semua tentangmu, bentuk matamu, hidungmu, bibirmu,
senyummu, tawamu, ramahmu, kebiasaanmu bermain dengan anak kecil, santunmu
dengan mendermakan harta untuk pengemis tua yang datang, caramu memetik gitar,
dan masih banyak lagi. Dan tahukah kau ada bagian di tulisan pagi ini yang
sesungguhnya aku buat khusus untukmu. Bagian yang aku tulis dengan perasaan
yang menderu...
"Aku
suka hujan di malam hari. Ia terasa menenangkan disaat gelap dan menghangatkan
dikala gulita. Aku suka fajar dini hari karena ia mengantarkan ku pada cahaya
lembut mentari. Aku suka senja yang menyapa di ujung hari karena ia menjemputku
dikala rembulan siap menyertai. Hujan, fajar, dan senja itu tak lain ialah
kau."
Aku
mengagumimu sampai mati…
So
please... lihat sejenak jendela di samping kirimu, dan akan kau temukan aku
berdiri di sisi jendela lainnya di gedung seberang... aku yang selalu
menunggumu ditemani mesin tik tua, tak pernah berhenti bermimpi untuk bisa
menuju tempatmu, tak perlu dengan ragaku cukup hanya hatiku yang menuju
kesana...
Lantas
aku mulai bertanya, adakah aku layaknya ikan tuna dalam kaleng yang biasa
dijual di supermarket-supermarket ? Tubuh ikan itu ada di dalam kaleng, namun
kepalanya tak ada disana. Tak jauh beda denganku setiap kali berada di ruang
mesin tik ini, ragaku hadir namun kepalaku -pikiranku- tak ada disini, coba
tebak dimanakah ia ?! Yaa... di gedung seberang...
Ijinkan
sekali lagi aku berkata, Aku mengagumimu sampai mati…
***
Surat
kabar yang lain menunggu tulisanku mengenai kondisi politik saat ini. Dan sulit
bagiku berkonsentrasi di ruang mesin tik tua ini, karena pandanganku pasti akan
tertuju pada jendela di gedung seberang. Aku mencoba mensiasatinya dengan
memasang tirai pada jendela. Sudah hampir 2 hari tirai jendela ini menghalangi
pandangku, dan ini memang menyiksa.. Tak hanya karena aku tak bisa melihat
pemandangan sejuk bagian atas Dago, tapi kerinduanku pada gedung seberang
membuat batinku sedikit terluka. Mungkin ini lebih baik, berkonsentrasi di
ruang mesin tik tua ini agar aku bisa mengirimkan tulisan-tulisan selain tentangmu.
Namun apa yang terjadi, yang aku hasilkan justru lebih banyak tulisan-tulisan
tentang 'kamu'. Ini benar-benar gila.
Kau
menyiksaku sampai mati, menyiksa hati dan pikiran yang memang selalu terbayangi
oleh dirimu. Otakku nyaris beku jika mencoba menulis selain tentang dirimu,
buntu. Tapi jika ku mulai dengan 1 kalimat tentangmu, kalimat-kalimat lain
menyeruak dalam otakku, membuatku semakin mempercepat ketikan agar tak ada 1
kalimat pun yang luput. Karena bagi ku, 1 kalimat tentangmu bagai keberuntungan
yang membuatku bahagia karenanya.
Seperti
untaian kalimat yang satu ini, yang ku buat dengan senyum di bibir...
"Banyak
hal yang ingin ku ceritakan padamu, hal-hal yang membuatku tersenyum,
tertantang, dan tentu saja yang membuatku tertatih hari ini... Setiap suka
ingin ku bagi denganmu dan setiap duka ingin ku hapus bersamamu... Saat yang
aku rindu ialah saat kita bisa duduk santai di taman kota ditemani gugurnya
daun di bulan Februari…"
***
Bukankah
sifat dasar yang melekat pada seorang wanita itu ialah pemalu ?! Lantas apa aku
menyesali memilih jalan ini ?! Menjadi pengagum rahasia, yang cukup merasa
riang melihatmu dari jendela ini... Pernahkah terbersit rasa penyesalan itu ?!
Tidak.. aku lebih menyesal jika aku tunjukkan secara terang-terangan, maka aku
memilih untuk menumpahkan semua rasa yang ada dihati ini lewat karyaku, lewat
tulisanku... Karena satu hal yang aku yakini, tulang rusukku itu tak akan
tertukar… Biar Tuhan saja yang menjawab…
Rampung di Dago
Pojok, 13 Mei 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar