Selasa, 25 Agustus 2015

JATINANGOR

Jatinangor tanpamu bukan Jatinangor namanya. Aku merasa menuju jarak yang tak berujung. Jatinangor gersang menghembuskan angin panas, menelusup diam-diam pada hati yang penuh rindu. Dinginnya malam Jatinangor pun berani membuat lidahku kelu, otakku beku, dan tubuhku membatu. Aku berjalan, dengan raga tanpa jiwa..

Harus dengan apa lagi aku gambarkan bahwa Jatinangor tanpamu bukan Jatinangor namanya.. ia terasa hampa, hambar, dan tawar

---

Jatinangor denganmu bukan Jatinangor namanya. Angin gersang Jatinangor terasa sejuk menerpa wajah, lembut bagai ditiup malaikat surga. Panas Jatinangor tak pernah sampai hati membakar kulitku, tapi justru ia membakar sisa-sisa rindu kemarin. Dingin Jatinangor justru membawa kehangatan, menjauhkanku dari kenyataan bahwa dingin itu bisa menusuk-nusuk tulang. Banyak orang, banyak lampu, banyak mobil, banyak bangunan, apa peduliku?!

Harus dengan apa lagi aku gambarkan bahwa Jatinangor denganmu bukan Jatinangor namanya.. ia penuh gairah, warna, dan rona..



Jatinangor, 23 Juli 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar