Selasa, 25 Agustus 2015

GRAVITASI


Sulit memulai kata
bagai pengakuan pendosa di ujung mautnya
ku coba walau terbata
mengeja kata..
merangkai makna..

gravitasi membuat bibir atasku jatuh lembut menyentuh pasangannya
tak bisa ku angkat lagi walau hanya untuk sepatah kata

gravitasi itu bukan sihir
gravitasi itu gaya tarik, kawan...



Subang, 18 Januari 2011

MUNDUR 1 LANGKAH



Ketika aku sudah memutuskan untuk melangkah, tak ada yang mampu membuatku mundur walaupun 1 langkah...

Tapi untukmu, aku bersedia untuk mundur 1 langkah agar kau merasa jauh lebih leluasa...

Dan ku mohon jangan kau memintaku untuk mundur lebih banyak lagi karena sungguh aku tak sanggup untuk melakukan itu saat ini...

Aku mencoba menutup inderaku. Sosokmu kini tak ada lagi dihadapanku, tapi mengapa kau masih terukir indah di hati dan memori ingatanku...

Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk menutup semua indera milikku, indera yang peka akan semua tentangmu. Sungguh, aku lakukan ini agar kau benar-benar merasa lebih leluasa.




DALAM PELARIAN



Jika kau lebih memilih berlari, maka kau harus siap untuk lelah sebagai konsekuensi

Jika kau pikir dengan berlari kau dapat melupakan tempat-tempat indah yang telah kau lalui

Aku bilang itu salah

Tapi terkadang apa yang diucapkan tak sama dengan apa yang dilakukan

Nyatanya kini aku berlari

Untuk menjauh dari tempat-tempat indah itu

Dalam benakku...

Jika jauh maka lupa

Dalam hatiku...

Jika jauh maka dekat

Dalam inginku...

Jika dekat maka lupa



Subang, 14 Juli 2009

JENDELA CINTA GEDUNG SEBERANG (50 Besar Sinopsis Cerita LA Light Indie Movie)


Kita hidup dibawah 1 langit yang sama di kota ini dan aku mungkin saja pernah menghirup udara yang membelai mesra rambutmu. Tapi tak pernah ada tegur sapa diantara kita. Aku mengenalmu dengan baik, wahai si pemilik jendela gedung seberang. Dan aku pun yakin kau mengenalku lewat tulisan-tulisan milikku yang selalu kau baca di surat kabar pagi langgananmu.

Tak sulit bagiku mengetahui surat kabar langganan yang tiap hari kau baca, tinggal bertanya kepada Pak Tua pengantar koran yang juga kebetulan mengantarkan koran ke rumahku. Alhasil aku mendapatkan jawaban, sebuah nama surat kabar ternama di kota kita. Sejak saat itu kuputuskan mengirimkan cerpen-cerpen milikku ke surat kabar itu. Sedikit beruntung memang, dengan mengandalkan reputasiku di dunia tulis-menulis hanya dengan satu-dua kali kirim, cerpen milikku sudah terpampang dengan manis di salah satu halaman sastra surat kabar itu.

Pagi ini aku yakin kau tengah membaca tulisanku di surat kabar langgananmu. Tulisan yang ku kirim ke surat kabar ini memang lebih banyak menulis tentangmu, tantang betapa aku mengagumi sosokmu, sosok penghuni gedung seberang. Andai kau lebih peka dengan karyaku, kau dapat memastikan bahwa yang ku tulis itu tak lain ialah dirimu. Ku ceritakan semua tentangmu, bentuk matamu, hidungmu, bibirmu, senyummu, tawamu, ramahmu, kebiasaanmu bermain dengan anak kecil, santunmu dengan mendermakan harta untuk pengemis tua yang datang, caramu memetik gitar, dan masih banyak lagi. Dan tahukah kau ada bagian di tulisan pagi ini yang sesungguhnya aku buat khusus untukmu. Bagian yang aku tulis dengan perasaan yang menderu...

"Aku suka hujan di malam hari. Ia terasa menenangkan disaat gelap dan menghangatkan dikala gulita. Aku suka fajar dini hari karena ia mengantarkan ku pada cahaya lembut mentari. Aku suka senja yang menyapa di ujung hari karena ia menjemputku dikala rembulan siap menyertai. Hujan, fajar, dan senja itu tak lain ialah kau."

Aku mengagumimu sampai mati…

So please... lihat sejenak jendela di samping kirimu, dan akan kau temukan aku berdiri di sisi jendela lainnya di gedung seberang... aku yang selalu menunggumu ditemani mesin tik tua, tak pernah berhenti bermimpi untuk bisa menuju tempatmu, tak perlu dengan ragaku cukup hanya hatiku yang menuju kesana...

Lantas aku mulai bertanya, adakah aku layaknya ikan tuna dalam kaleng yang biasa dijual di supermarket-supermarket ? Tubuh ikan itu ada di dalam kaleng, namun kepalanya tak ada disana. Tak jauh beda denganku setiap kali berada di ruang mesin tik ini, ragaku hadir namun kepalaku -pikiranku- tak ada disini, coba tebak dimanakah ia ?! Yaa... di gedung seberang...

Ijinkan sekali lagi aku berkata, Aku mengagumimu sampai mati…

***

Surat kabar yang lain menunggu tulisanku mengenai kondisi politik saat ini. Dan sulit bagiku berkonsentrasi di ruang mesin tik tua ini, karena pandanganku pasti akan tertuju pada jendela di gedung seberang. Aku mencoba mensiasatinya dengan memasang tirai pada jendela. Sudah hampir 2 hari tirai jendela ini menghalangi pandangku, dan ini memang menyiksa.. Tak hanya karena aku tak bisa melihat pemandangan sejuk bagian atas Dago, tapi kerinduanku pada gedung seberang membuat batinku sedikit terluka. Mungkin ini lebih baik, berkonsentrasi di ruang mesin tik tua ini agar aku bisa mengirimkan tulisan-tulisan selain tentangmu. Namun apa yang terjadi, yang aku hasilkan justru lebih banyak tulisan-tulisan tentang 'kamu'. Ini benar-benar gila.

Kau menyiksaku sampai mati, menyiksa hati dan pikiran yang memang selalu terbayangi oleh dirimu. Otakku nyaris beku jika mencoba menulis selain tentang dirimu, buntu. Tapi jika ku mulai dengan 1 kalimat tentangmu, kalimat-kalimat lain menyeruak dalam otakku, membuatku semakin mempercepat ketikan agar tak ada 1 kalimat pun yang luput. Karena bagi ku, 1 kalimat tentangmu bagai keberuntungan yang membuatku bahagia karenanya.

Seperti untaian kalimat yang satu ini, yang ku buat dengan senyum di bibir...

"Banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu, hal-hal yang membuatku tersenyum, tertantang, dan tentu saja yang membuatku tertatih hari ini... Setiap suka ingin ku bagi denganmu dan setiap duka ingin ku hapus bersamamu... Saat yang aku rindu ialah saat kita bisa duduk santai di taman kota ditemani gugurnya daun di bulan Februari…"

***

Bukankah sifat dasar yang melekat pada seorang wanita itu ialah pemalu ?! Lantas apa aku menyesali memilih jalan ini ?! Menjadi pengagum rahasia, yang cukup merasa riang melihatmu dari jendela ini... Pernahkah terbersit rasa penyesalan itu ?! Tidak.. aku lebih menyesal jika aku tunjukkan secara terang-terangan, maka aku memilih untuk menumpahkan semua rasa yang ada dihati ini lewat karyaku, lewat tulisanku... Karena satu hal yang aku yakini, tulang rusukku itu tak akan tertukar… Biar Tuhan saja yang menjawab…



Rampung di Dago Pojok, 13 Mei 2011

SI SOSIAL DAN SI POLITIK (Tiga Besar Lomba Cerpen Hypnosoulmate)


Namanya Egi. Kalau aku panggil ia dengan sebutan Gie, girangnya bukan main. Persis nama seorang tokoh yang ia kagumi, Soe Hok Gie. Bahkan jika aku boleh jujur, Egi memang tidak berbeda jauh dengan Soe Hok Gie yang sering aku baca di buku. Soe Hok Gie adalah seorang pecinta alam, begitupun Egi. Jika libur kuliah, Egi lebih sering menghabiskan waktunya dengan naik-turun gunung. Sepulangnya dari gunung, ia tak pernah berhenti berceloteh, bahkan aku harus setia mendengarkan cerita yang sama selama 1 minggu berturut-turut. Sempat iri karena memang aku tak pernah diijinkan naik gunung lagi setelah pernah kondisi fisik drop sehabis pulang naik gunung sewaktu SMA. Soal kekritisan, Egi pun tidak kalah. Dari mulai kebijakan di fakultas, kampus, sampai pemerintahan ia kritisi. Latar belakangku yang tidak tertarik tentang perpolitikan kadang tak mengerti apa yang dibicarakannya. Aku memang payah. Pacar yang payah untuk seorang yang brilian seperti Egi.

Tapi aku pun tak sepayah yang kalian kira. Aku memang tak sebrilian Egi, tapi aku pun punya kebrilianan yang lain. Sedikit narsis tak apalah. Aku lebih sering terjun di kegiatan-kegiatan sosial, dari mulai mendirikan rumah belajar untuk anak-anak jalanan, mengadakan senam ibu hamil di desa tetangga, penyuluhan tentang seks bebas untuk para remaja, bahkan aku dan kawan-kawan mulai membina sebuah desa terpencil agar mandiri secara ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.


Berbeda kontras dengan Egi, sang pacar bukan ?!

Aku sendiri tak mengerti mengapa bisa jatuh cinta pada sosok Egi. Secara logika, seseorang pasti tertarik dengan orang yang banyak persamaan dengan dirinya, dari mulai hobi atau lebih luasnya lagi tentang prinsip hidup. Cinta memang seringkali bertolak belakang dengan logika. Dan itulah yang terjadi pada kami.

Terlepas dari perbedaan itu, kami sering merasa yakin jika kami berjodoh. Bukan untuk menerka atau bahkan sok tahu tentang takdir, hanya untuk bumbu-bumbu kemesraan saja. Lebih tepatnya sebuah lelucon. Seperti ini salah satunya, kami dipertemukan di salah satu fakultas yang menjadi unggulan di kampus ini, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dari nama tempat yang mempertemukan kami saja sudah jelas (mungkin) kami berjodoh. Aku yang tertarik pada hal-hal yang berbau sosial dan Egi yang tertarik pada hal-hal yang berbau politik. Cocok bukan ?! Si Sosial dan Si Politik yang dipertemukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Haahahhaa….

Atau ada lagi 1 hal, entah kenapa aku punya cita-cita untuk menjadi seorang istri presiden. Banyak teman yang berkata bahwa cita-citaku tanggung, “Kenapa gak jadi presiden aja sekalian ?!” Begitu tanya temanku. Padahal sedikit bocoran, ini jelas-jelas bukan cita-cita yang tanggung, ini justru cita-cita yang skalanya lebih tinggi dari cita-cita menjadi seorang presiden. Itu pun jika cita-cita memiliki skala. Kau tahu kenapa ?! Menjadi seorang presiden memang terdengar hebat tapi tahukah kalian bahwa adanya laki-laki yang hebat itu karena ada wanita yang hebat juga dibelakangnya?!  Yang senantiasa menjadi penyemangat saat Sang Lelaki dilanda krisis kepercayaan diri, yang siap sedia diajak berdiskusi, yang selalu mencintai bahkan jika di lain pihak begitu banyak yang membenci, dan yang selalu menghadirkan Sang Lelaki disetiap doanya. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah ibu dan istrinya. Jadi lebih hebat mana menjadi Sang Presiden atau Istri Presiden…?! Hahahhaa… Bukan cita-cita yang tanggung bukan…?! Bahkan jika aku benar-benar menjadi istri seorang presiden, minatku dibidang sosial akan lebih tersalurkan. Egi tertawa terbahak-bahak saat pertama kali aku menjelaskan mengapa setiap kali ditanya soal cita-cita aku selalu menjawab ingin menjadi seorang istri presiden. Tapi kemudian dia mulai mengerti bahwa pacarnya adalah seorang yang gila sekaligus brilian. Ini bukan narsis, ini persis dengan apa yang dikatakan Egi kepadaku disuatu senja, “Beruntung memiliki seorang pacar yang gila sekaligus brilian.”

Ya, kami memang berbeda namun kami masih tetap bisa satu sampai saat ini tak lain karena pengertian, mencoba mengerti apa yang menjadi bagian hidup Egi, begitupun Egi yang sepertinya mencoba keras untuk mengerti tentangku. Egi tak pernah memaksaku untuk ikut aksi dan turun ke jalan. Begitupun aku, aku mencoba memahami Egi yang memang punya sisi kritis yang abnormal, aksi diluar kota atau sekedar berdiskusi dengan kawan lama di lain kota pun tak pernah sedikit pun aku larang. Setidak setujunya aku dengan kegiatan-kegiatan Egi karena khawatir dengan keselamatan dan kesehatannya, aku tak pernah berkata “Jangan..!!” Hanya mampu berkata “Hati-hati…”

Ada 1 hal yang membuatku semangat dan begitu mengagumi pacarku ini, Egi pernah berkata, “Secara kasat mata mungkin kita berbeda. Tapi intinya kita sebenarnya sama. Bukankah kita sama-sama menginginkan Indonesia menjadi lebih baik ?! Itu dia intinya ! Hanya arah perjuangannya saja yang berbeda, kamu melakukannya dengan cara menyentuh ‘yang ada di bawah’, langsung terjun ke masyarakat. Sedangkan aku melakukannya dengan cara menyentuh ‘yang ada di atas’, menyadarkan dan mengingatkan pemerintah saat keluar dari koridor yang seharusnya mereka jalani. Jadi lihatlah intinya, jangan lihat permukaannya saja. Kita sama !! 

Aku semakin yakin perbedaan itu indah. Pelangi dengan keanekaragaman warnanya dapat menjadi indah, sebuah lagu yang terdiri dari nada-nada yang berbeda pun dapat menjadi alunan yang indah, lalu mengapa kami tak bisa menjadikan perbedaan ini indah ?! Perbedaan itu indah selama yang menjalaninya dapat menjadikan perbedaan itu indah. Seperti apa yang tengah kami usahakan kini. Jodohkan aku dengan dia, Ya Rabb….



Dago Pojok, 5 Februari 2011